Assalamualaikum wr.. wb..

"Yang Membedakan Kita Sekarang dengan 5 (Lima) Tahun akan Datang adalah Orang-Orang yang Kita Temui dan Buku-Buku yang Kita Baca (NN)"

Assalamualaikum wr.wb.

Selamat Datang ke Banda Aceh.. Kota Madani Syariat Islam..

Komik Aceh

Gam Cantoi merupakan sebuah Improvisasi dari gejala masyarakat yang melegenda..

Suatu Saat di Rumah Cut Nyak Dien

Bukan kurangnya kemampuan yang dapat melemahkan kehidupan, namun enggak cukupnya kesungguhan buat menggunakan kemampuan yang ada..

Hana Peng Hana Inong

Jak lam U Banda Aceh..!! Hana Pat Duk Dong Pih Jeut Cit..

Senin, 24 Oktober 2011

H+2 dan H+3 di Teluk Kuali


20 Oktober 2011
Hari ini silaturrahmi dengan ketua Majelis Permusyawaratan Desa (MPD) dan ketua Lembaga Adat Desa Teluk Kuali.
Pada saat silaturrahmi dengan ketua MPD banyak bertukar pikiran tentang kondisi desa teluk kuali, hingga sejarahnya. Sebanyak 5 camat di Tebo berasal dari Teluk Kuali, dan 3 orang penduduk Teluk Kuali pernah menjadi bupati Tebo..
Ketua MPD mengharapkan agar adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan menggerakkan kembali animo masyarakat untuk menanam padi

Lembaga adat:
-         Banyak program yang tidak berjalan seperti PKK disebabkan karena kurang dana
-         Koordinasi dengan SMA tentang ekstrakurikuler, seperti sanggar tari atau pramuka
-         Narkoba telah merajalela di masyarakat khususnya pemuda
-         PAUD dan sekolah diniyah perlu diberdayakan
-         Pembudidayaan tambak terabaikan (banyak tambak terbengkalai)
-         Pasar desa dan perparkiran perlu ditinjau kembali
-         Hambatan :listrik sering mati..

21 Oktober 2011
Hari ini kami melihat kondisi tempat yang akan kami tinggal nanti. Ada 2 buah rumah di komplek SD, yang satunya dulunya digunakan oleh penjaga sekolah dan satu lagi seperti gudang yang hanya punya satu ruang. Untuk kondisi rumah agak bagus, Cuma perlu direnovasi pintu dan jendela saja.
*jam 19.30 rumah pak kades
Malam ini ada pertemuan masyarakat desa Teluk Kuali dengan penyuluh pertanian dari kecamatan, mereka membicarakan tentang waktu pelaksanaan tanam padi.
Disepakati bahwa waktu panam padi dilakukan H+6 setelah hari raya idul adha 1432 H. Semakin kurangnya animo masyarakat untuk menanam padi menyebabkan semakin sulitnya kepala desa dan tim penyuluh pertanian menggerakkan pertanian, alasan utamanya karena pendapatan dari sadap karet lebih menguntungkan dan tidak butuh waktu seharian seperti menanam padi. Bahkan undangan awalnya yang diedarkan sebanyak 80 orang dari kelompok tani yang hadir hanya berjumlah 30 orang.
Padahal pada tahun 2010 Teluk Kuali pernah panen raya yang langsung dihadiri oleh Bupati Tebo, dan itu sejarah yang pernah ditores oleh Teluk Kuali dalam bidang pertanian sejak 20 tahun lalu, karena dulunya itu adalah hutan gambut yang ditumbuhi oleh pohon inang dan rerumputan liar, karena iniasif dari masyarakat desa maka dibukakan kembali persawahan yang terbengkalai cukup lama itu.
Dan kami dari PSP3 juga memperkenalkan diri apa tujuan kedatangan kami, dan mengharapkan kerja sama dan partisipasi masyarakat untuk kesuksasan program ini..

Hari Pertama di Teluk Kuali (PSP-3 2011)


19 oktober 2011

Hari ini adalah hari pertama menjalankan pengabdian PSP-3. Hari ini kami melakukan audiensi dan pelepasan dari bupati Tebo kepada kepala desa masing-masing..

Kami yang ditugaskan di Tebo sebanyak 14 orang, yaitu di desa Tanjung Aur, Teluk Kembang Jambu, teluk Kuali, Tanjung Aur Seberang, Pinang Balai, Napal Putih, dan Pagar Puding. Dan saya ditempatkan di Teluk Kuali bersama seorang teman lagi dari Medan.

Jarak antara desa penempatan kami (ds teluk kuali) dari ibu kota kabupaten sekitar 50 km, bisa ditempuh dlm jarak waktu 1,5 jam dengan kondisi jalan bebatuan.. sedangkan dari Ibu Kota Jambi sekitar 256 KM.

Kami ditempatkan sementara di rumah pak kades, sampai kami mendapatkan rumah sewa sendiri.. Desa yang kami tempati termasuk desa yang (agak) maju, banyak prestasi yang didapati oleh desa ini. Pada tahun 2009 pernah menjadi desa teladan terbaik ketiga tingkat propinsi Jambi.. Bulan mei 2011 kemarin, kepala desa Teluk Kuali mengikuti petani berprestasi di Pontianak..

Banyak permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa ini:
-permasalahan hama binatang ternak yang tidak terawat/ tidak terikat membuat masyarakat sulit bertani padi, padahal berbagai upaya telah dicoba hingga tembusannya langsung kepada pemerintah daerah untuk minta bantuan pagar duri, tapi tanggapan pemerintah daerah ternak harus dikurung (bukan pada pemagarannya).
-cetak sawah banyak terdapat, tetapi animo masyarakat untuk menanam sawah kurang..alasaanya masyarakat lebih banyak mendapatkan penghasilan dari nyadap getah dan kelapa sawit dari pada ke sawah. Dan juga untuk nyadap getah dan sawit tidak butuh waktu banyak, hanya sekitar 4 jam sehari sedangkan kalau ke sawah bisa butuh waktu seharian.. hari sabtu ini ( 21/10) kepala desa beserta seluruh perangkat desa lainnya mengadakan rapat tentang musim tanam padi...
-Luasnya desa yang memiliki 9 dusun menjadi kendala tersendiri dalam pengelolaan desa.
- kepala desa mengharapkan bila kami menjalanakan program, lebih kepada yang bersifat kewirausahaan pemuda dan masyarakat, jangan yang sifatnya edukasi sementara.. 
-Sulitnya mengumpulkaan masyarakat menjadi hambatan tersendiri dalam menjalankan kegiatan khususnya rapat-rapat desa. Biasaanya kepala desa mengadakan rapat pada sore jumat..

Jumat, 21 Oktober 2011

Kisah Sukses Seorang Wirausahawan Sosial


Peringatan 70 tahun usia Bambang Ismawan, lahir 7 Maret 1938, ditandai dengan terbitnya dua buku. Buku pertama berjudul Bambang Ismawan Bersama Wong Cilik dan buku kedua Mazmur Ismawan.

Delapan puluh dari 284 halaman buku pertama berisi perjalanan hidup Bambang Ismawan, lengkapnya Fransiskus Xaverius Bambang Ismawan, mulai dari desa kelahirannya di Babat, Lamongan, Jawa Timur, sampai di Jakarta, tepatnya di Cimanggis, Jawa Barat; sisanya sekitar 200 halaman berisi komentar-komentar teman, kolega, dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan Bambang Ismawan atau Bina Swadaya, yayasan yang menaungi berbagai usaha Bambang Ismawan bersama sejumlah kerabatnya.

Adapun buku kedua berisi napak tilas jejak langkah Bambang Ismawan, sebuah perjalanan retret bersama istri, Sylvia Ismawan, dan sejumlah teman dekat selama tujuh hari, menziarahi berbagai tempat di Jawa, dari Babat sampai Cimanggis. Kedua buku terangkai sebagai kisah sukses seorang wirausahawan sosial Bambang Ismawan.

Nama Bambang Ismawan tak bisa dipisahkan dengan Yayasan Bina Swadaya, sebuah yayasan yang semula bernama Yayasan Sosial Tani Membangun, didirikan bersama I Sayogo dan Ir Suradiman tahun 1967. Komitmen dan perhatiannya pada pemberdayaan masyarakat kecil (wong cilik) sudah terlihat sejak menjadi mahasiswa FE UGM—yang tidak mau menjadi pengusaha seperti umumnya alumni fakultas ekonomi pada masa itu—membawa Bambang Ismawan terlibat dalam kegiatan alternatif pemerintah yang dulu dikenal sebagai organisasi nonpemerintah (ornop), nongovernment organization (NGO), tetapi kemudian dia introdusir nama lembaga swadaya masyarakat (LSM), sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang kemudian dipakai sebutan umum segala kegiatan yang tidak berasal dari pemerintah, baik yang memfokuskan kegiatan advokasi maupun aksi langsung.

Bambang Ismawan bersama Bina Swadaya dikenal sebagai pelopor gerakan LSM yang berusaha mandiri, tidak tergantung dari bantuan, lewat berbagai usaha—dalam buku kedua disebutkan sebagai LSM terbesar di Asia Tenggara—karena itu pernah disindir sebagai membisniskan kemiskinan pada era tahun 1980-an. Namun, pada satu dekade kemudian, Bambang membuktikan langkah yang dia lakukan selama ini tidak keluar dari jalur pemberdayaan.

Koperasi yang dirintis awal kegiatan Bina Swadaya membuktikan masyarakat bisa mandiri, yaitu orang memperoleh kepastian atas hak miliknya, yang sejalan dengan pemikiran sosiolog Hernando de Soto, yaitu kepastian hak milik dipenuhi antara lain lewat sertifikasi tanah. Dalam konteks kemudian, mengaku berkali-kali bertemu pemenang Nobel dari Bangladesh, Muhamad Yunus, apa yang dilakukannya dalam menggerakkan swadaya masyarakat adalah mengadvokasi dan memberikan semangat bekerja pada masyarakat.

Bina Swadaya yang dirintis dan dikembangkannya saat ini dari sisi sebuah usaha dengan omzet Rp 20 miliar, 900 karyawan tetap, melayani secara langsung 100.000 keluarga miskin. Pusdiklat di Cimanggis sudah melatih sekitar 7.000 pimpinan LSM pengelola pemberdayaan masyarakat, penerbitan majalah luks pertanian Trubus yang terbit pertama tahun 1969 kini dengan oplah 70.000 eksemplar, penerbitan buku-buku pertanian sejak 25 tahun lalu disusul buku-buku kesehatan, keterampilan, dan bahasa, 12 toko pertanian di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Bina Swadaya tidak lagi sebuah LSM yang kegiatannya mengandalkan dana pihak ketiga. Dalam usia 70 tahun, setelah 40 tahun lebih menangani Bina Swadaya sebagai Ketua Pengurus, resmi Bambang menyerahkan tongkat kepemimpinan pada Nico Krisnanto, mantan bankir yang sudah beberapa tahun belakangan ini magang di Bina Swadaya.

Tiga jalur

Dalam rencana kerja 10 tahun yang akan datang, Bina Swadaya ingin menjadi LSM yang besar dengan karyawan 5.000 orang pada tahun 2015 (buku pertama, hal 46), dengan tetap berpijak pada roh dan semangat awal, yakni pemberdayaan wong cilik. Sebutan macam-macam, akhirnya tepat yang dirumuskan untuk sosok Bambang Ismawan oleh Harry Tjan Silalahi, ”menolong wong cilik bukan karena merasa sebagai orang besar” (buku pertama, hal 25), menurut Frans Magnis Suseno SJ, ”berusaha di tingkat akar rumputbukan bagi masyarakat, melainkan bersama masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka” (buku pertama, hal 111).

Selasa, 23 Agustus 2011

Seorang Pemuda dan Bidadari Bermata Jeli


Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”

Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.”

Laki-laki itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku telah berjual beli kepada Allah dengan harapan mendapat Surga, mana mungkin jual beli yang aku persaksikan kepadamu itu akan melemah.” Dia berkata, “Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua, …kalau orang kesayanganku saja mampu berbuat, apakah kami tidak?” Kemudian lelaki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah kecuali seekor kuda, senjata dan sekedar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang dialah laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut. Dia berkata, “Assalamu ’alaika wahai Abdul Wahid,” Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”

Kemudian kami berangkat menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa di siang hari dan qiyamullail pada malam harinya melayani kami dan menggembalakan hewan ternak kami serta menjaga kami ketika kami tidur, sampai kami tiba di wilayah Romawi.

Ketika kami sedang duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia datang sambil berkata, “Betapa rindunya aku kepada bidadari bermata jeli.” Kawan-kawanku berkata, “Sepertinya laki-laki itu sudah mulai linglung.” Dia mendekati kami lalu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar lagi, aku sangat rindu pada bidadari bermata jeli.” Aku bertanya, “Wahai saudaraku, siapa yang kamu maksud dengan bidadari bermata jeli itu.” Laki-laki itu menjawab, “Ketika itu aku sedang tidur, tiba-tiba aku bermimpi ada seseorang datang menemuiku, dia berkata, ‘Pergilah kamu menemui bidadari bermata jeli.’ Seseorang dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih. Di taman itu ada beberapa pelayan cantik memakai perhiasan sangat indah sampai-sampai aku tidak mampu mengungkapkan keindahannya.

Ketika para pelayan cantik itu melihatku, mereka memberi kabar gembira sambil berkata, ‘Demi Allah, suami bidadari ber-mata jeli itu telah tiba.’ Kemudian aku berkata, ‘Assalamu ‘alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Pelayan cantik itu menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan terus!’


Aku pun meneruskan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah sungai yang mengalir air susu, tidak berubah warna dan rasanya, berada di sebuah taman dengan berbagai perhiasan. Di dalamnya juga terdapat pelayan bidadari cantik dengan mengenakan berbagai perhiasan. Begitu aku melihat mereka aku terpesona. Ketika mereka melihatku mereka memberi kabar gembira dan berkata kepadaku, ‘Demi Allah telah datang suami bidadari bermata jeli.’ Aku bertanya, ‘Assalamualaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, Waalaikassalam wahai waliyullah, kami ini sekedar budak dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan terus.’

Aku pun meneruskan maju, ternyata aku berada di sebuah sungai khamr berada di pinggir lembah, di sana terdapat bidadari-bidadari sangat cantik yang membuat aku lupa dengan kecantikan bidadari-bidadari yang telah aku lewati sebelumnya. Aku berkata, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pembantu dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan maju ke depan.’

Aku berjalan maju, aku tiba di sebuah sungai yang mengalirkan madu asli di sebuah taman dengan bidadari-bidadari sangat cantik berkilauan wajahnya dan sangat jelita, membuat aku lupa dengan kecantikan para bidadari sebelumnya. Aku bertanya, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Wahai waliyurrahman, kami ini pembantu dan pelayan bidadari jelita, silahkan maju lagi.’

Aku berjalan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di se-buah tenda terbuat dari mutiara yang dilubangi, di depan tenda terdapat seorang bidadari cantik dengan memakai pakaian dan perhiasan yang aku sendiri tidak mampu mengungkapka keindahannya. Begitu bidadari itu melihatku dia memberi kabar gembira kepadaku dan memanggil dari arah tenda, ‘Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang!’

Kemudian aku mendekati kemah tersebut lalu masuk. Aku mendapati bidadari itu duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas, bertahta intan dan berlian. Begitu aku melihatnya aku terpesona sementara itu dia menyambutku dengan berkata, ‘Selamat datang waliyurrahman, telah hampir tiba waktu kita bertemu.’ Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, ‘Sebentar, belum saatnya engkau memelukku karena dalam tubuhmu masih ada ruh kehidupan. Tenanglah, engkau akan berbuka puasa bersamaku di kediamanku, insya Allah. ‘

Seketika itu aku bangun dari tidurku wahai Abdul Wahid. Kini aku sudah tidak bersabar lagi, ingin bertemu dengan bida-dari bermata jeli itu.”

Abdul Wahid menuturkan, “Belum lagi pembicaraan kami (cerita tentang mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh telah mulai menyerang kami, maka kami pun bergegas meng-angkat senjata begitu juga lelaki itu.

Setelah peperangan berakhir, kami menghitung jumlah para korban, kami menemukan 9 orang musuh tewas dibunuh oleh lelaki itu, dan ia adalah orang ke sepuluh yang terbunuh. Ketika aku melintas di dekat jenazahnya aku lihat, tubuhnya berlu-muran darah sementara bibirnya tersenyum yang mengantarkan pada akhir hidupnya.”
(Tanbihul Ghafilin, 395)

Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Penerbit Darul Haq



Jumat, 29 Oktober 2010

Wong Fei Hung Ternyata Seorang Muslim




Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

CHATTING